Category Archives: Berita

Mobil sport keren hasil main di situs togel terpercaya

MOBIL SPORT KEREN HASIL MAIN DI SITUS TOGEL TERPERCAYA – Infiniti Q50 Sports Saloon 2016 telah diluncurkan dengan banyak perubahan di banyak sisi. Mulai dari mesin, sasis, fitur dan teknologi terkini. Pada generasi kedua ini, Q50 menggunakan mesin 3.000 cc V6 twin-turbo bensin. Meski dari mesin yang sama, Infiniti membedakan tenaga bagi dua varian Q50. Varian tertinggi menyediakan tenaga hingga 400 dk dengan torsi maksimum 475 Nm di 1.600-5.200 rpm. Sementara varian lainnya mempunyai tenaga lebih kecil dengan 300 dk dengan torsi maksimum 400 Nm pada 1.600-5.200 rpm. Klaimnya, mesin baru ini lebih efisien dari generasi sebelumnya. Untuk menyalurkan tenaga besar tersebut, Infiniti menggunakan tranmisi otomatis 7 percepatan.

Transmisi terbarunya ini diklaim lebih lembut dalam berakselerasi sehingga mendukung untuk efisiensi BBM. Terdapat pula mode manual yang bisa diatur melalui padleshift di balik setir. Salah satu fitur baru yang hadir adalah Dynamic Digital Suspension (DDS) yang untuk pertama kalinya hadir pada lini produk pabrikan Jepang ini. Melalui fitur ini, pengemudi bisa merasakan suspensi yang nyaman dengan respons kemudi yang lebih presisi. Bahkan Anda bisa mengatur mobil lebih personal melalui fitur Drive Mode Selector (DMS). Ketika diganti ke mode Personal, mulai dari suspensi, handling dan karakter mesin bisa diatur sesuai dengan gaya mengemudi atau jalan yang dilalui. Infiniti termasuk berani dalam membuat desain Q50 yang menonjolkan performa dinamis dengan teknologi terdepan di kelasnya. Penjualannya pun cukup laris di dunia, pada periode Januari sampai Oktober 2015 telah laku 50.000 unit. Angka tersebut mengalami kenaikan 65% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Yang Tekor Setelah Teror Bagian 2

Sebagai korban, Ketut tak muluk-muluk mengharapkan santunan besar dari negara. Dia hanya berharap mendapat kemudahan mengurus layanan kesehatan, termasuk untuk keluarganya. Tapi itu pun masih jauh panggang dari api. Tiga pekan lalu, ketika istrinya sakit, Ketut hendak mendaftar layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Ia memilih kelas II, yang iurannya Rp 51 ribu per orang per bulan.

Namun Ketut berpikir ulang ketika petugas memberitahukan bahwa semua anggota keluarga harus didaftarkan, dengan total iuran sekitar Rp 250 ribu per bulan. ”Bagi saya, itu memberatkan,” ujar Ketut. Ketut tak sendirian. Korban peristiwa teror lain mengalami nasib yang kurang-lebih sama: sekali disantuni, lalu dilupakan begitu saja. Sucipto Hari Wibowo, misalnya. Ia salah satu korban bom di depan Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004. Hari itu Sucipto tengah melintas dengan sepeda motor di seberang jalan Kedutaan.

Ledakan bom membuat sepeda motor Sucipto mati mendadak. Penutup tangki bahan bakarnya seketika terlempar. Badan Sucipto pun mendadak-sontak limbung. Tapi, dari luar, Sucipto seperti tak terluka. Setelah sejenak menenangkan diri, ia kembali melanjutkan perjalanan. Keesokan harinya, Sucipto merasakan nyeri di bagian belakang kepala. Dari televisi, dia mendengar kabar bahwa pemerintah akan menanggung biaya pengobatan korban bom. Karena itu, Sucipto pergi ke Rumah Sakit MMC, Jakarta. Ternyata Sucipto mengalami gangguan saraf di dekat otaknya. Hampir sebulan ia menginap di rumah sakit.

Yang Tekor Setelah Teror

SEBELAS tahun berlalu sejak ledakan bom di Menega Cafe, Jimbaran, Bali, tapi Ketut Si anthana masih dihantui ke ngerian akibat serangan teroris tersebut. Pria 45 tahun ini terkejut-kejut setiap kali mendengar bunyi ledakan, termasuk dari kembang api sekalipun. Peristiwa yang dikenal sebagai Bom Bali II itu pun menyisakan bekas luka dan benda asing di tubuh Ketut. ”Satu gotri belum dikeluarkan karena sangat dekat dengan organ vital,” ujar Ketut, Kamis dua pekan lalu.

Ketika bom laknat itu meledak, 1 Oktober 2005, Ketut sedang bertugas sebagai waiter. Malam itu bom meledak di tiga tempat. Salah satunya di kafe tempat Ketut bekerja. Rangkaian teror itu menewaskan 20 orang dan melukai lebih dari 100 orang. Ledakan bom menancapkan pecahan kaca di kaki dan tiga gotri di tubuh Ketut. Dia sempat dirawat dua pekan di Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. ”Kaki saya dioperasi. Dua gotri diambil dari perut saya,” ujar Ketut.

Sebelum pulih betul, Ketut memilih pulang dari rumah sakit. Ia harus menghadiri upacara adat untuk satu dari tiga anaknya. Ketika dirawat di Rumah Sakit Sanglah, Ketut memang tak mengeluarkan uang sepeser pun. Tapi itulah layanan kesehatan gratis terakhir yang dia terima dari negara. Padahal, sampai sekarang, kesehatan Ketut belum sepenuhnya normal. Ia mudah kecapekan. Ketut hanya sanggup menjadi kasir, yang lebih banyak diam di tempat. ”Kalau sakit, siapa yang mau menanggung biaya pengobatan?” katanya.