Kayu Olahan yang Murah dan Kuat Menahan Situs Judi Online

Kayu Olahan yang Murah dan Kuat Menahan Situs Judi Online Banyak cara yang dilakukan oleh arsitek dan kontraktor bangunan untuk mengatasi kelangkaan dan mahalnya harga kayu solid. Salah satunya adalah memanfaatkan kayu olahan yang dibuat dari kayu yang berasal dari tanaman cepat tumbuh, seperti sengon (albasia), karet, dan akasia mangium. Tanaman-tanaman ini dapat dipanen setelah pohon berusia sekitar 10 tahun. Hal ini tidak mungkin dicapai pada tanaman, seperti kayu merbau, kamper, dan borneo. Kayu olahan yang saat ini mulai banyak dilirik sebagai elemen struktur dan non-struktur bangunan adalah kayu Laminated Veneer Lumber (LVL).

KAYU OLAHAN YANG MURAH DAN KUAT MENAHAN SITUS JUDI ONLINE

Kayu LVL atau ada yang menyebutnya sebagai kayu laminasi, adalah kayu olahan yang terdiri dari lapisan tipis atau veneers kayu yang direkatkan menggunakan lem pada kedua sisinya kemudian diberi tekanan. Proses pengelemannya dilakukan mengikuti arah panjang kayu. Sebagai produk olahan, kayu laminasi memiliki banyak keuntungan dibanding kayu alam gergajian. Berikut beberapa kelebihannya. Tiga Kali Lebih Kuat Salah satu kelebihan kayu laminasi adalah kekuatannya. Menurut Prof. Dr. Ir. Anita Firmanti, MT., Kepala Puslitbang Permukiman, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum, kekuatan kayu laminasi bisa 3 kali lebih kuat dibanding kayu aslinya (kayu sengon, karet, akasia) atau setara dengan kayu solid gergajian, seperti kayu kamper.

Kekuatannya pun lebih merata di seluruh bidang kayu. Kekuatan yang merata pada kayu laminasi, menurut Anita, disebabkan bagian-bagian cacat alami, yang sering dijumpai pada kayu asli, telah disebar secara merata di antara lapisan veneer saat proses produksi. Hal ini dapat meminimumkan, bahkan menghilangkan, pengaruh cacatcacat tersebut terhadap kekuatan kayu laminasi. Hasilnya adalah produk kayu laminasi dengan kekuatan yang lebih tinggi dan lebih seragam dibandingkan kayu utuh dengan kandungan cacat yang sama. Lebih Stabil Keunggulan lain dari kayu laminasi adalah muai susut kayu sangat kecil. Hal ini disebabkan setiap lapis kayu (veneer) yang akan dilaminasi telah melalui proses pengeringan yang merata dengan kadar air yang rendah (sekitar 10 persen). Dengan proses ini, akan dihasilkan kayu laminasi dengan berat jenis dan kadar air yang sama dan seragam pada setiap bidang kayu. Kadar air yang rendah dan merata menjadikan kayu laminasi memiliki kestabilan ukuran (dimension stability) yang lebih baik dibanding kayu solid gergajian yang di oven.

Kondisi ini sulit dihasilkan pada kayu solid oven karena proses pengeringan yang kurang terkontrol sehingga menyebabkan tidak semua bagian kayu merata keringnya. Kadar air yang rendah juga berdampak pada bobot kayu laminasi yang lebih ringan dibanding kayu solid gergajian. Karena bobotnya yang ringan maka kayu jenis ini cocok diterapkan di daerah rawan gempa. Dimensi dan Bentuk Fleksibel Proses pengeleman lapisan kayu (veneer) yang mengikuti arah panjang kayu aslinya, memungkinkan dihasilkan kayu laminasi dengan ukuran tebal dan panjang yang bervariasi, tergantung jumlah lembaran veneer yang dilem dan panjang kayu aslinya. Produsen kayu laminasi di Medan misalnya, telah mampu memproduksi kayu laminasi berbentuk balok ukuran 30cm (lebar) x 60cm (tebal) x 14m (panjang). Dimensi kayu laminasi yang sudah umum diproduksi dan dipasarkan mempunyai ukuran tebal 9cm–19,5cm, lebar 2cm–10cm, sedangkan panjangnya bervariasi mulai dari beberapa centimeter hingga 5m. Tidak hanya itu. Berbagai macam bentuk arsitektural yang sulit, juga dapat dihasilkan oleh kayu laminasi dengan cara membengkokkan lembaran kayu (timber) selama proses produksi.

Laminasi dengan lengkungan standar dapat diperoleh dari timber dengan tebal 19mm. Lengkungan dengan sudut yang lebih besar dapat diproduksi dari timber dengan tebal 38mm. Keras dan Tahan Rayap Sebagai kayu laminasi yang dihasilkan melalui proses pengeleman dan penekanan, memungkinkan proses pengawetan dan ketahanan terhadap jamur dan serangga dapat langsung dilakukan dengan lebih mudah. Dengan demikian akan dihasilkan kayu laminasi yang tidak hanya keras, juga memiliki daya tahan yang tinggi terhadap rayap dan jamur. Lebih Murah Nilai plus yang tidak kalah penting pada kayu laminasi adalah harganya yang jauh lebih murah dibanding kayu solid kelas 1. Sebagai contoh, kayu laminasi dengan tebal standar (2cm) bisa diperoleh dengan harga Rp500 ribu/m2 atau Rp22 juta – Rp25 juta/m3. Sedangkan kayu solid kelas satu, menurut Gary Gunawan, dari PT Anugrah Karunia Alam, salah satu produsen kayu laminasi, harganya 20-25% lebih mahal. Nah, dengan banyaknya nilai positif yang dimiliki kayu laminasi dan harganya yang relatif lebih murah, apakah Anda juga tertarik untuk menggunakannya? Dengan menggunakan kayu laminasi, berarti Anda juga ikut mendukung program ecogreen, lho!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *