Huawei Menanamkan SoC Terbarunya

Efisien

Huawei pada 2009 meluncurkan smartphone yang ditenagai oleh SoC miliknya sendiri yang dibuat oleh HiSilicon. Belakangan, Huawei menamai SoC-nya itu Kirin. Kirin adalah mahkluk mitos berkaki empat dengan badan dikelilingi api dari negeri Cina. Mahkluk ini sering kali disamakan dengan unicorn di Eropa. Peluncuran Ascend Mate7 dan P7 beberapa waktu lalu di Jakarta, Dennis Poon, Global UI Design Director Huawei yakin Kirin punya performa yang mumpuni untuk menandingi yang populer di pasaran.

Baca juga : Net89

Ia juga menyebutkan bahwa prosesor Kirin punya delapan inti miliknya unggul dalam penghematan daya. Konsep delapan inti yang Huawei gunakan di Kirin sejalan dengan konsep big.LITTLE ARM. Empat inti prosesor punya performa lebih besar empat inti lainnya. Dengan demikian, Huawei berharap ponselnya dapat bekerja dengan konsumsi daya yang lebih hemat. Selain itu, dengan multiprosesor pada CPU-nya Huawei yakin bisa mengoptimalkan prosesor berbeda kinerja ini sesuai pekerjaan yang sedang dilakukan. “Untuk kerja tertentu hanya perlu core tertentu,” jelas Dennis dalam presentasinya.

“Misal ketika Anda mengirim menelepon atau sms, tentu saja tidak dibutuhkan SoC yang memiliki daya yang besar (yang berarti mengonsumsi baterai lebih banyak). Disinilah core yang lebih kecil digunakan. Sementara ketika Anda bermain game, tentu perlu kinerja prosesor dan grafis yang lebih tinggi, maka saat itulah prosesor dengan daya yang lebih besar dipakai,” jelasnya lagi. Sebelumnya, Huawei sudah menjalin kerjasama selama sepuluh tahun dengan ARM. Sejak 2004, Huawei sudah menggunakan arsitektur ARM untuk berbagai portofolio produk Huawei.

Huawei telah menghabiskan ratusan juta dollarAS untuk membangun produk berdasarkan ekosistem ARM. Hal lain yang menjadi alasan Huawei membuat sendiri prosesornya adalah untuk meningkatkan efektivitas smartphone ketika terhubung ke jaringan. Kita juga tahu bahwa Huawei telah lebih dari dua dekade berkutat dengan jaringan. Di Indonesia sendiri, Huawei menyediakan mulai dari BTS yang digunakan oleh para operator sampai dongle USB atau MiFi (mobile Wifi) yang biasa kita pakai.

Maka Huawei ingin menggunakan kepiawaian mereka dalam mengatur jaringan ini untuk menciptakan smartphone yang hemat daya ketika tersambung ke jaringan. “Intinya optimasi,” tambahnya. “Smartphone terhubung ke tower (BTS) hanya di waktu yang tepat. Karena komunikasi inilah yang paling memakan power”.

Dari seluruh alasan yang dikemukakan para vendor yang sudah lebih dulu mengecap asam garam pembuatan SoC sendiri, akankah LG berhasil menawarkan hal baru untuk smartphonenya? Atau akan berakhir galau seperti Samsung? Sayang, hingga berita ini diturunkan pihak LG Indonesia, masih belum memberi jawaban soal masa depan LG dengan SoC baru buatannya itu. Just wait and see.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *