Yang Tekor Setelah Teror Bagian 2

Sebagai korban, Ketut tak muluk-muluk mengharapkan santunan besar dari negara. Dia hanya berharap mendapat kemudahan mengurus layanan kesehatan, termasuk untuk keluarganya. Tapi itu pun masih jauh panggang dari api. Tiga pekan lalu, ketika istrinya sakit, Ketut hendak mendaftar layanan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Ia memilih kelas II, yang iurannya Rp 51 ribu per orang per bulan.

Namun Ketut berpikir ulang ketika petugas memberitahukan bahwa semua anggota keluarga harus didaftarkan, dengan total iuran sekitar Rp 250 ribu per bulan. ”Bagi saya, itu memberatkan,” ujar Ketut. Ketut tak sendirian. Korban peristiwa teror lain mengalami nasib yang kurang-lebih sama: sekali disantuni, lalu dilupakan begitu saja. Sucipto Hari Wibowo, misalnya. Ia salah satu korban bom di depan Kedutaan Besar Australia pada 9 September 2004. Hari itu Sucipto tengah melintas dengan sepeda motor di seberang jalan Kedutaan.

Ledakan bom membuat sepeda motor Sucipto mati mendadak. Penutup tangki bahan bakarnya seketika terlempar. Badan Sucipto pun mendadak-sontak limbung. Tapi, dari luar, Sucipto seperti tak terluka. Setelah sejenak menenangkan diri, ia kembali melanjutkan perjalanan. Keesokan harinya, Sucipto merasakan nyeri di bagian belakang kepala. Dari televisi, dia mendengar kabar bahwa pemerintah akan menanggung biaya pengobatan korban bom. Karena itu, Sucipto pergi ke Rumah Sakit MMC, Jakarta. Ternyata Sucipto mengalami gangguan saraf di dekat otaknya. Hampir sebulan ia menginap di rumah sakit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *